Share fb fb fb

Blog

Connect with us : facebook twitter linked instagram

awards1

Prediksi Ekonomi & Pasar Modal Indonesia di 2018

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 akan mencapai angka 5,5%. Angka ini didasarkan pada angka harapan investasi, konsumsi dan net ekspor yang akan menopang rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018.

Dengan digelarnya pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah pada 2018, investor asing diprediksi memilih wait and see hingga perhelatan itu selesai. Meskipun investor asing menurun, tetapi investor dari dalam negeri diperkirakan akan melonjak.

Pilkada bakal berdampak pada meningkatnya daya beli negara. Terlebih selain Pilkada, tahun depan Indonesia menjadi juga jadi tuan rumah perhelatan besar seperti Asian Games 2018 dan International Monetary Fund (IMF) 2018.

International Monetary Fund (IMF) turut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018. Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,6%. Pertumbuhan ini akan didorong oleh aktifitas non-domestik seperti peningkatan ekspor dan investasi asing. Sementara dari sisi domestik, peningkatan akan didorong oleh pergerakan suku bunga meskipun dalam tingkatan moderat.

Investor domestik saat ini lebih dominan dalam mengerek IHSG. Secara sentimen, ada beberapa faktor pendorong optimisme dan kepercayaan pelaku pasar di tahun 2017. Pada bulan Mei lalu misalnya, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) menaikkan sovereign credit rating Indonesia menjadi BBB-/A-3 dengan outlook stabil. Sementara itu Lembaga Pemeringkat Internasional, Moody’s Investor Services memutuskan untuk mempertahankan peringkat (rating) utang jangka panjang Indonesia di level Baa3 dengan prospek positif. Padahal, pemerintah dan ekonom memprediksi Moody’s bakal menaikkan rating.

Pada 8 Februari 2018, Lembaga pemeringkat Japan Credit Rating Agency, Ltd (JCR) meningkatkan sovereign credit rating (SCR) Indonesia dari sebelumnya BBB- outlook positif menjadi BBB dengan outlook stabil. Peningkatan rating oleh JCR mencerminkan semakin meningkatnya keyakinan lembaga internasional terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki struktur ekonomi ke depan

Beberapa sektor pilihan di 2018 adalah perbankan, telekomunikasi, dan tambang batu bara. Sektor-sektor ini masih prospektif. Saham sektor perbankan, komoditas, konsumsi, serta infrastruktur-konstruksi juga bakal berkibar.

Pergerakan indeks di tahun ini lebih banyak didorong oleh sektor perbankan, pertambangan, dan barang konsumsi (consumer goods). Sebagaimana diketahui, kinerja emiten-emiten perbankan cukup cemerlang hingga kuartal III-2017. Di sisi pertambangan, harga komoditas yang membaik berimbas positif pada kinerja emiten tambang.

Menurut Nico Omer, VP Research & Analysis Valbury, Apabila kita melihat indeks harga komoditas dibandingkan dengan indeks harga saham (dalam hal ini S&P 500), rasio ini merupakan paling rendah dalam 50 tahun terakhir. Berarti jika rasio ini kembali ke level tertinggi yang tercapai sebelumnya, harga komoditas bisa naik 8 hingga 10 kali lebih cepat kedepannya. Nico Omer memperkirakan IHSG akan naik ke level 6.750 dan saham tambang masih akan menjadi pendorong laju indeks dalam 5 tahun ke depan.