Share fb fb fb

Blog

Connect with us : facebook twitter linked instagram

awards1

Menghadapi Turunnya Harga Investasi

Kondisi pasar keuangan yang bergejolak pasti akan terus terjadi selama kita berinvestasi. Karena itu adalah bagian dari nature siklus ekonomi. Apa strategi melawan investasi reksadana yang harganya sedang turun? Meskipun kondisi saat ini sedang turun, tapi dalam trend 5 tahun, kinerja saham sebenarnya masih meningkat. Dari sini, Anda bisa melihat bahwa rentang atau periode waktu investasi menjadi sangat kritikal. Faktor itu yang akan menentukan bagaimana harus bersikap menghadapi anjloknya nilai Reksadana.

Ada sejumlah hal yang perlu kita lakukan untuk menghadapi penurunan ini.

Cek Lagi Tujuan Keuangan

Karena tujuan keuangan menentukan instrumen yang dipilih, Reksadana apa yang dibeli dan dijual, dan tingkat risikonya. Tujuan keuangan menetapkan jangka waktu investasi yang akan dipilih. Mau 1 bulan, 5 tahun atau bahkan 20 tahun lamanya investasi, semua diputuskan berdasarkan tujuan keuangan.

Jika tujuan keuangan adalah dana pendidikan anak kuliah, yang diperlukan 10 tahun lagi, gejolak turunnya nilai Reksadana bukan sesuatu yang perlu dicemaskan. Cuekin aja gejolak ini. Dalam waktu 1 atau 2 tahun, gejolak biasanya sudah pulih kembali. Bahkan menurut pengalaman harga setelah gejolak bisa lebih tinggi dari harga sebelumnya.

Merubah Komposisi Investasi

Jika dana yang sekarang ditempatkan di Reksadana saham adalah dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat, Anda harus segera mereposisi posisi investasi. Menjual dan menggantinya ke instrumen yang jaug lebih aman, seperti Reksadana pasar uang atau deposito.

Sebenarnya jika pemilihan instrumen dilakukan dengan cermat sejak awal, kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi. Tapi, kenyataannya banyak orang yang kepincut return tinggi, kemudian memilih intrumen yang sebenarnya tidak cocok dengan profil tujuan investasinya.

Tambah Investasi

Ini dilakukan untuk Anda yang punya tujuan investasi diatas 5 tahun. Jadi khusus yang tujuan keuangan jangka panjang. Karena dalam jangka panjang harga saham punya kecenderungan (ingat: tidak ada yang pasti dalam investasi) meningkat.

Berdasarkan pengalaman di tahun 2008, ketika krisis lebih dahsyat melanda di bursa saham, butuh sekitar 2 tahun untuk harga saham pulih kembali. Dan yang penting, harga saham pulih ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelum krisis.

Bayangkan jika cepat-cepat menjual (padahal kebutuhan dana masih lama), hanya gara-gara panik, kerugian pasti terjadi karena menjual di saat harga turun (cut loss) dan kehilangan kesempatan menikmati kenaikkan harga saham

Jadi, pada dasarnya harga saham yang turun itu akan kembali naik. Hanya saja, tidak ada yang tahu pasti, kapan timing kenaikkan harga tersebut. Makanya, daripada pusing menganalisa kapan waktu yang tepat untuk beli, lebih baik melakukan investasi secara rutin. Justru harga yang sedang murah adalah kesempatan emas untuk bisa memborong unit Reksadana dalam jumlah besar.

Mengatur Pengeluaran

Kenapa perlu kembali lagi ke pengaturan keuangan. Karena dalam kondisi penurunan ekonomi, ini langkah yang paling efektif. Tidak jarang ada yang dananya tertanam di instrumen yang sedang turun nilainya, sehinga either uangnya sulit dicairkan (jadi tidak likuid) or nilai investasi menjadi rendah. Sementara, ada kebutuhan mendesak, misalnya, uang muka anak sekolah yang tidak bisa ditunda. Dalam kondisi semacam ini,penghematan adalah langkah paling cepat yang bisa dilakukan untuk menutupi kerugian investasi. Melihat lagi apakah ada pos – pos pengeluaran yang masih bisa dihemat.