Share fb fb fb

Blog

Connect with us : facebook twitter linked instagram

awards1

Mengenal Istilah Santa Claus Rally dan January Effect

Menjelang akhir tahun seperti saat ini Anda mungkin mendengar atau membaca istilah dalam berita pasar saham atau pasar forex seperti ‘Santa Claus rally’ dan ‘January effect’ , juga istilah lain pada waktu yang berbeda. Pertanyaannya adalah apakah  istilah-istilah tersebut mencerminkan pola-pola pergerakan harga tertentu sehingga investor bisa memperoleh keuntungan dengan mengikuti pola tersebut?

Pada kenyataannya pergerakan harga pasar memang membentuk pola tertentu pada suatu periode waktu, sesuai dengan perilaku para pelaku pasar. Secara historis pola-pola tersebut menunjukkan trend makro, dan jika trader mengikuti pola-pola tersebut dengan benar maka dalam jangka menengah panjang akan bisa menguntungkan. Namun demikian trend makro tersebut tidak memberi jaminan pasti akan menguntungkan jika Anda salah dalam mengantisipasi trend mikro

‘Santa Claus rally’. istilah ini mengacu pada kenaikan harga-harga saham pada minggu terakhir bulan Desember dan berhubungan dengan dua istilah berikutnya yaitu ‘January effect’ dan ‘Window dressing’. ‘Santa Claus rally’ terjadi akibat kombinasi antara para investor yang membeli saham-saham sebagai antisipasi ‘January Effect’, dan para fund manager yang membeli saham-saham beberapa hari sebelum tutup tahun untuk keperluan ‘Window dressing’, atau memoles portofolio agar tampak lebih meyakinkan. Biasanya trader membeli saham-saham atau masuk buy pada indeks saham futures menjelang Natal dan menjualnya pada periode ‘January effect’.

‘January effect’. Istilah ini merujuk pada keadaan anomali khususnya pada pasar saham, dimana harga-harga saham naik pada bulan Januari. Biasanya trader membeli saham-saham pada harga yang relatif rendah sebelum Januari dan menjualnya setelah harga naik. Fenomena ini terjadi karena para investor perorangan yang sensitif terhadap pajak pendapatan biasanya menjual saham-saham yang merugi, atau saham-saham kecil yang kurang menguntungkan pada akhir tahun (karena alasan pajak) dan membelinya kembali pada awal bulan Januari.

‘Window dressing’. Istilah ini merujuk pada trik marketing yang biasanya dilakukan oleh para fund manager untuk memperbaiki kinerja portofolio-nya. Idenya adalah dengan membeli saham-saham yang kinerjanya sedang bagus (harganya sedang naik) menjelang pengumuman laporan keuangan pada akhir kwartal.

Para fund manager yang melakukan ‘Window dressing’ biasanya akan menjual saham-saham yang kinerjanya kurang memuaskan dan menukarnya dengan membeli saham-saham yang kinerjanya sedang bagus sehingga portofolio-nya tampak lebih menjanjikan. Trader yang masuk pada saham-saham pilihan saat musim ‘Window dressing’ sebaiknya tidak menahan terlalu lama karena lonjakan harga tersebut biasanya hanya sementara

Imbal hasil IHSG periode turn-of the year ini dengan data sejak Natal 2002 hingga Januari 2010, hanya dua kali periode ini memberikan imbal hasil negatif, yaitu 2002 dan 2006. Rata-rata kenaikan jika membeli saham sehari sebelum Natal dan menjual pada 15 Januari tahun berikutnya adalah 3,1%

Tapi, hati-hati, jangan sampai terlambat menjual saham. Jika beli sehari sebelum Natal dan jual pada akhir Januari tahun berikutnya, imbal hasil melorot jadi 1,7%. Bahkan, dari delapan tahun pengamatan itu, empat kali imbal hasilnya negatif jika menunggu hingga akhir Januari. Perlu diingat, riset ini menggunakan IHSG, bukan saham perusahaan kecil.

Melihat perilaku IHSG menjelang akhir tahun ini, ada harapan IHSG ditutup lebih tinggi dari saat ini. Tentunya, para trader saham sudah siap dengan strategi beli sekarang dan jual pada awal tahun. Bagi trader, yang lebih menarik adalah bagaimana menikmati suasana akhir tahun di bursa saham dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sementara investor jangka panjang mungkin memilih berlibur dulu dan baru kembali memburu saham murah di akhir Januari.