Share fb fb fb

Blog

Connect with us : facebook twitter linked instagram

awards1

INVESTASI - Resiko & Cara Meminimalisirnya

Dalam berinvestasi pasti memiliki resiko yang nantinya akan dihadapi baik resiko yang bersifat sistematis maupun resiko yang tidak sistematis. Resiko ini harus diketahui oleh setiap investor yang berinvestasi agar dapat menentukan langkah untuk menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Resiko sistematis adalah seperti inflasi, kenaikan suku bunga dan keadaan ekonomi yang akan berpengaruh kepada investasi yang dimiliki, sedangkan resiko tidak sistematis adalah resiko yang hanya berlaku pada investasi tertentu saja misalnya kebijakan yang mengatur larangan terhadap kegiatan ekspor atau impor.

Tiap jenis investasi memiliki resikonya masing-masing. Namun dalam keseluruhan, resiko investasi adalah sebagai berikut.

Turunnya nilai investasi.

Resiko ini terjadi karena menurunnya tingkat keuntungan yang didapatkan. Hal ini merupakan sebuah resiko yang wajar karena tidak ada orang yang dapat menebak atau memprediksi bagaimana keadaan di kemudian hari. Apabila terjadi hal yang buruk, maka nilai investasinya akan jatuh dan dapat menyebabkan kerugian yang besar. Untuk mengurangi resiko ini, cara termudah adalah berinvestasi di berbagai sarana investasi. Cara ini disebut dengan membuat portofolio investasi atau bisa juga disebut diverifikasi. Tujuan dari cara ini adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan yang diperoleh dari sarana investasi yang lain. Sesuai dengan pepatah yang ada, "jangan meletakkan banyak telur dalam satu keranjang" karena jika terjatuh, maka telur akan lebih banyak yang pecah dibandingkan jika ditaruh pada beberapa keranjang jika keranjang yang lain tidak jatuh.

Resiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual/diuangkan kembali atau dikenal sebagai likuiditas.

Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau menerima atau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang secara fisik robek, rusak atau kumal.

Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik atau peminatnya sedikit. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, yaitu mereka yang hobi akan lukisan juga, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan bagi orang yang menjualnya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, sebaiknya ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi tersebut bisa dijual kembali. Jangan sampai berinvestasi namun tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.

Ada pula resiko ini, bayangkan jika berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen. Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena jenis investasi yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai. Secara sederhana dapat dikatakan hasil investasi yang diberikan tidak sebesar kenaikan harga barang dan jasa. Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi risiko ini? Yaitu dengan cara jangan menutup diri terhadap informasi atau carilah informasi sebanyak-banyaknya dan se-update mungkin. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin belum diketahui, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.