Share fb fb fb

Blog

Connect with us : facebook twitter linked instagram

awards1

Berkah dan Cuan di Pasar Saham Saat Ramadhan

Menjelang Ramadhan, sejumlah emiten diprediksi akan menuai untung, utamanya emiten yang bergerak di sektor ritel. Pasalnya, serapan konsumsi masyarakat akan bertambah pada bulan Ramadan dan lebaran. Bagi investor pasar modal, momen Ramadhan justru menjadi peluang untuk memaksimalkan hasil investasi. Meningkatnya belanja barang dan jasa tentunya akan memicu kenaikkan saham-saham emiten sektor konsumsi, otomotif, jasa transportasi, dan pengelolaan jalan tol. Artinya, Ramadhan adalah momen yang baik untuk masuk ke pasar modal.

Saham barang konsumsi (consumer goods) menjadi sektor yang lazim terdongkrak sentimen puasa dan Lebaran. Di periode ini, konsumsi masyarakat atas produk consumer goods melonjak drastic, biasanya mendorong kenaikan harga saham sektor konsumsi 5%-10% selama puasa hingga menjelang Lebaran. Beberapa saham sektor konsumer di antaranya, Matahari Department Store (LPPF), Ramayana Lestari Sentosa (RALS), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Kalbe Farma (KLBF), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

Saham sektor distiributor dan operator telekomunikasi juga menarik dicermati. Penjualan emiten dua sektor ini biasanya ikut moncer saat puasa hingga lebaran. Maklum, banyak pekerja yang mengalokasikan Tunjangan Hari Raya untuk membeli perangkat tekomunikasi, belum lagi penggunaan data, SMS dan telepon lebih tinggi saat bulan puasa. Hal ini menjadi tambahan tenaga bagi operator telekomunikasi. PT Trikomsel Oke, Tbk (TRIO), PT PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk (TELE) dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Investor juga sebaiknya lebih melirik saham-saham operator telekomunikasi yang memang punya kapitalisasi pasar besar, seperti PT Telkomsel, Tbk (TLKM), PT Indosat, Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Data dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa apabila kita membeli saham seminggu sebelum lebaran dan menjualnya seminggu setelah lebaran, probabilitas untuk mendapatkan keuntungan adalah lebih dari 80% dengan rata-rata keuntungan sekitar 1,2%. Itu hanya dalam jangka waktu dua minggu, cukup pendek. Seringnya juga, IHSG pascalebaran lebih tinggi dibandingkan dengan IHSG sebelum lebaran.

Memang, ini hanya sebuah analisis dan apa yang terjadi di masa lalu tidak menjamin bahwa di masa yang akan datang akan terjadi hal serupa. Namun, tidak ada salahnya juga apabila kita mempertimbangkan momen singkat di bulan Ramadhan ini untuk mengoptimalkan hasil investasi.

Faktor valuasi juga mesti diperhatikan selain likuiditas. Investor disarankan memilih saham yang belum naik terlalu tinggi agar meraih cuan maksimal saat Ramadan hingga Lebaran. Terakhir, apabila kita memutuskan untuk masuk ke pasar, jangan lupa untuk tetap mempertimbangkan dan mengelola risiko-risiko yang mungkin akan terjadi.

Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat berinvestasi.